Seluruh dunia, khususnya Indonesia, telah mengalami permasalahan lingkungan yang sangat mengkhawatirkan. Salah satunya penyebabnya adalah jumlah sampah yang dihasilkan oleh manusia, baik dari kegiatan industri maupun rumah tangga. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, berkembang pula industri, yang secara langsung maupun tidak langsung merubah pola hidup masyarakat, yang berujung pada tidak terkontrolnya jumlah sampah yang dihasilkan.
Salah satu jenis sampah yang perlu diawasi adalah sampah (kantong) plastik. Sampah (kantong) plastik yang menggunung disebabkan oleh pola hidup masyarakat modern dan serba ‘instan’ yang mendorong tingginya tingkat konsumsi (kantong) plastik di masyarakat. Sedangkan, sampah (kantong) plastik sendiri memiliki dampak yang berbahaya bagi lingkungan, antara lain:
1. Sampah (kantong) plastik sulit terurai; dibutuhkan waktu hingga 1000 tahun agar plastik dapat terurai secara sempurna di tanah. Di samping itu, plastik yang terurai di tanah tersebut dapat mencemari tanah dan air tanah.
2. Sampah (kantong) plastik yang dibakar akan menghasilkan asap yang mengandung dioksin, salah satu senyawa yang beracun dan berbahaya bagi kesehatan.
3. Sampah (kantong) plastik yang dibuang tidak pada tempatnya akan menyebabkan banjir karena menyumbat saluran air, tanggul, mencemari perairan, dan sebagainya.
Terlebih lagi sekitar 500 juta hingga 1 milyar kantong plastik digunakan di dunia setiap tahunnya. Jumlah yang sangat fantastis, mengingat lebih dari 17 milyar kantong plastik juga dibagikan secara gratis di seluruh dunia setiap tahunnya! Sampah (kantong) plastik juga berperan dalam fenomena pemanasan global karena menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca di atmosfer. Alur perjalanan plastik dari proses produksi hingga pembuangannya membutuhkan sekitar 12 juta barrel minyak dan 14 juta pohon setiap tahunnya. (berbagai sumber)
Berdasarkan rata-rata semua hasil riset yang GI dapatkan, jumlah pemakaian kantong plastik per orang per tahun sekitar 700 lembar*. Bila jumlah tersebut dikumpulkan dalam satu tempat, banyaknya dan bahayanya benar-benar menakutkan bak MONSTER. Jadi MONSTER KRESEK bisa dikatakan adalah hasil ciptaan kita sendiri yang masih menggunakan kantong plastik secara berlebihan. 
Monster Kresek: “Aku lahir karena kalian yang menggunakan kresek berlebihan, rata-rata per orang per tahun 700 sampah kantong plastik”
Apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi masalah sampah (kantong) plastik ini? Upaya paling sederhana yang dapat dilakukan oleh kita adalah melakukan DIET KANTONG PLASTIK. Kenapa mempergunakan istilah DIET? Istilah DIET identik dengan perilaku BIJAK DALAM MENGKONSUMSI, dimana PENGURANGAN JUMLAH SAMPAH (KANTONG) PLASTIK merupakan isu utama yang perlu dilakukan oleh kita sebagai konsumen kantong plastik.
Beberapa cara DIET KANTONG PLASTIK antara lain:
1. REDUCE (PENGURANGAN) yaitu dengan meminimasi (mengurangi) pemakaian kantong plastik terutama ketika berbelanja. Barang belanja dapat kita bawa dengan mempergunakkan tas pribadi atau kantong khusus dari bahan non-plastik yang dapat dipakai berulang-ulang.
2. Perilaku REUSE (PENGGUNAAN KEMBALI) dilakukan jika pemakaian kantong plastik tidak dapat dihindari, maka kantong plastik yang telah dimiliki dapat digunakan kembali sehingga tidak terus menambah sampah (kantong) plastik yang dibuang ke lingkungan.
3. Sedangkan untuk RECYCLE (PENDAURULANGAN) dapat dilakukan dengan mengoptimalkan serta mendorong kegiatan pendaurulangan kantong plastik yang berjalan di masyarakat.
Dapat kita lihat sendiri, upaya DIET KANTONG PLASTIK ini adalah cara yang cukup sederhana, bukan? Namun, kesuksesan upaya DIET KANTONG PLASTIK ini sangat bergantung pada perilaku kita untuk melakukannya secara terus-menerus. Maka dari itu, YUK KITA DIET KANTONG PLASTIK! Mulai lakukan dari diri sendiri serta ajak orang-orang di sekitarmu! :D
*) Hasil riset GI tahun 2009. Responden 419 orang di kota-kota besar di Indonesia.
| kontribusi: akbari.env@gmail.com |

