Kembangkan Energi Alternatif dengan Ultrasonik

Salah besar jika pemuda Indonesia dikatakan memble, hanya bisa menikmati teknologi asing. Bukti tentang prestasi pemuda kita, Februari silam, dipaparkan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) di Mall of Indonesia (MOI) Kelapa Gading, Jakarta. Dan di antara 25 pemuda berprestasi itu, terdapat seorang penemu energi alternatif.

Dia tak lain Agung Sri Hendarsa. Ia meraih penghargaan yang diprakarsai seniman sekaligus pengusaha Jaya Suprana itu atas prestasinya memanfaatkan minyak kelapa sawit kualitas rendah untuk pembuatan biodiesel dengan teknologi ultrasonik.

Pria kelahiran Temanggung ini dalam beberapa tahun terakhir memang giat menekuni energi alternatif. Sebagai lulusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Agung menekuninya dengan riset dan bertanya-tanya. Selanjutnya ia melakukan berbagai percobaan yang tak kenal lelah. Setelah merasa percobaannya berhasil, suami dari Valleria ini lantas menyusun sebuah proposal lengkap pemanfaatan minyak kelapa sawit kualitas rendah untuk pembuatan biodiesel itu. “Saat ini sudah siap pakai dan sangat berguna untuk diaplikasikan dalam bisnis biodiesel,” katanya.

Penghargaan yang diperoleh Agung bersama pemuda dan atlet berprestasi lainnya dari MURI beberapa waktu lalu itu berawal dari Festival Pemuda Berprestasi 2009. Pada babak final festival yang digelar di kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, nama Agung diumumkan di antara 10 besar yang berhak atas hadiah uang Rp 15 juta.

Dan Agung adalah satu wiraswastawan yang lolos di antara 20 finalis pemuda berprestasi tahun ini. Pasalnya, peserta festival kebanyakan berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Tapi, karena usianya baru menginjak 32 tahun pada saat festival, Presiden Direktur PT Aozora Agung Perkasa ini pun berhak untuk berpartisipasi. Panitia memang menetapkan kriteria peserta dalam rentang usia 16-35 tahun.

Dapat juga Dibuat dari Minyak Jelantah

Saat menuntut di Negeri Matahari Terbit, bersama dengan profesornya, dia sempat membuat satu paten untuk penemuannya. Pada medio 2000-2003 itu mereka membuat proposal rekayasa industri tentang teknologi gasifikasi sampah organik perkotaan. Pemilihan sampah organik kala itu karena pertimbangan praktis semata. “Yang banyak tersedia di Jepang itu sampah. Tidak ada minyak atau batu bara, jadi kita ikut riset yang ada di sana,” paparnya.

Ultrasonic biodiesel atau teknologi suara berfrekuensi ultra sebagai reaktor pemroses biodiesel sendiri bukanlah hal baru. Tapi, inovasi Agung adalah merangkai jadi satu teknik yang menggantikan peran konvensional reaktor alir tangki berpengaduk itu dengan efisiensi bagian lain dalam proses produksi biodiesel.

Biodiesel secara umum adalah bahan bakar mesin diesel yang terbuat dari bahan terbarukan atau secara khusus merupakan bahan bakar mesin diesel yang terdiri atas ester alkil dari asam-asam lemak. Biodiesel dapat dibuat dari minyak nabati, minyak hewani atau dari minyak goreng bekas atau daur ulang. Banyak pihak menawarkan efisiensi per bagian. “Tapi, yang saya lakukan adalah perbaikan secara keseluruhan, mulai dari preparasi, reaksi inti, dan reaksi pemurnian,” katanya.

Agung juga menjelaskan proses pembuatan biodiesel yang ada saat ini kurang optimal karena waktu reaksi untuk memproduksinya masih cukup lama. Sehingga jumlah produksi biodiesel yang dihasilkan per satuan waktu pun belum optimum. Selain itu, diperlukan kualitas bahan baku dalam hal ini minyak nabati berkadar asam bebas yang rendah sehingga ongkos bahan baku menjadi tinggi.

Salah satu nilai plus inovasi Agung ini adalah soal bahan bakunya. Dalam skema ini bahan baku minyak kelapa sawit mentah yang digunakan pun bisa yang berkualitas jelek dengan kandungan lemak asam bebas yang mencapai 20% atau lebih. Bagi industri pengolahan besar, minyak sawit mentah seperti itu tidak ada harganya. “Biasanya minyak sawit seperti itu dihasilkan pabrik sawit kecil atau perkebunan sawit rakyat dan habis dibakar saja,” katanya.

Sebagai sebuah proposal rekayasa industri yang inovatif dan siap pakai, Agung merancang satu industri biodiesel yang mampu berproduksi sampai 30 juta liter per tahun. Ini merupakan sebuah skala produksi terkecil pada industri yang tergolong besar. Dalam proposal itu, dia mencantumkan hasil hitungannya bahwa dengan teknologi ultrasonik, total pengeluaran sebesar Rp 19 miliar akan kembali dalam 21 bulan.

Selain menggunakan bahan baku minyak sawit berkualitas rendah, teknologi ultrasonik ini juga mampu mengolah minyak jelantah bekas penggorengan. Tapi, dalam skala yang besar, menggunakan jelantah sebagai bahan baku menjadi hal yang tidak masuk akal. Mungkin masih bisa jika dilakukan dalam skala rumahan. “Masalahnya ada pada pasokan jelantah yang tidak terjamin dalam skala besar,” katanya.

Karena konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara nasional mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, maka peluang penggunaan energi terbarukan seperti biodiesel yang dilakukan Agung ini perlu digalakkan dan mendapat dukungan berbagai pihak. Jangan sampai para inovator seperti Agung ini dibajak negara lain karena ilmunya ditelantarkan di negeri sendiri. 

Sumber: http://www.beritalingkungan.com

10:12 am, by greeneration
Notes