Kewirausahaan Sosial: Greeneration Indonesia

GI

Tahukah kamu tentang Kewirausahaan Sosial? Berbagai permasalahan di masyarakat dipercaya bisa dipecahkan melalui spirit Kewirausahaan Sosial. Menurut Wikipedia, “Kewirausahaan sosial adalah disipilin ilmu yang menggabungkan antara kecerdasan berbisnis, inovasi, dan tekad untuk maju ke depan”. Bahkan Prof. Muhammad Yunus dari Grameen Bank peraih Nobel Prize pun berkata, “Ketika terjadi kemiskinan yang marak, dan ketiadakadilan sosial, Kewirausahaan Sosial adalah jawabannya”.

Berikut Asosiasi Kewirausahaan Sosial di Indonesia » http://www.aksi-indonesia.org

Salah satu contoh Kewirausahaan Sosial adalah Greeneration Indonesia yang saat ini mendapat apresiasi turut menjadi finalis Wirausaha Muda Mandiri 2011 - kategori alumni - bidang kreatif. Ayo berikan komentar dan feedback-mu langsung via halaman youtube di link berikut: 

Profil Greeneration Indonesia 

http://www.youtube.com/watch?v=BI-BvX3Rdps 

Semoga komentar dan feedback rekan-rekan mampu memperkuat itikad Greeneration Indonesia membangun negeri ini seutuhnya, HARMONIS secara berkelanjutan. :D 

Sebagai informasi tambahan, untuk menambah semangat dan seru, Bank Mandiri akan memberikan apresiasi terhadap pemberi komentar. Komentar terbaik pertama berhak memenangkan masing-masing 1 buah Ipad 2, dan 6 (enam) pemberi komentar terbaik kedua berhak memenangkan masing-masing 1 buah Blackberry Curve 9360. 

Terima kasih atas komentar dan feedbacknya, selamat berkarya memberikan komentar terbaik dari HATI. :D 

Mohon bantuannya menyebarkan informasi ini bila berkenan. Terima kasih. 

salam,

.GI.

10:22 am, by greeneration

Wahai sahabat,

Tanpa ramalan Bangsa Maya tentang 2012, bumi ini sudah mengarah pada kerusakan lingkungan yang memprihatinkan. Semua tanda bisa kita lihat serta rasakan, dan kondisi itu tak lepas dari perilaku kita sendiri. Mari bersyukur bahwa manusia diberi kehendak dan akal pikiran, untuk merubah kondisi menjadi lebih baik hingga batas optimal kita. 

Mari berkolaborasi mewujudkan perilaku ramah lingkungan dan kelestarian bumi pertiwi untuk mewujudkan masa depan yang harmonis.

SELAMAT TAHUN BARU 2012 

Greeneration Indonesia
green attitude green environment

(File Hi-Res)

  11:29 am, by greeneration 3

Kemtan Keluarkan 10 Varietas Padi

Jakarta, BERLING-Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian menghasilkan 10 varietas padi baru sebagai upaya antisipasi dampak perubahan iklim terhadap produksi pangan

Haryono, Kepada Badan Litbangtan, di Jakarta, kemarin seperti dilansir Antara mengatakan, perubahan iklim yang terjadi saat ini mengakibatkan cuaca ekstrem baik kering maupun hujan yang sulit diprediksi selain itu memunculkan serangan hama.”Oleh karena itu diperlukan benih padi yang tahan terhadap kekeringan, tahan genanangan maupun serangan hama wereng. Pada 2010 Litbang telah menghasilkan 10 varietas untuk antisipasi fenomena tersebut,” katanya.

Menurut dia, meskipun fenomena perubahan iklim baru dirasakan belakangan ini namun ke 10 varietas padi baru tersebut merupakan hasil penelitian selama enam hingga tujuh tahun. Beberapa varietas padi baru yang dihasilkan Badan Litbang untuk mengantisipasi perubahan iklim tersebut antara lain Inpara yang toleran terhadap rendaman, Inpago yang tahan kekeringan dan Inpari yang tahan terhadap serangan hama tanaman.

Pada kesempatan itu Haryono mengatakan, dalam lima tahun terakhir Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan 31 varietas padi unggul baru. Hingga saat ini lembaga penelitian di bawah Kementerian Pertanian itu telah menghasilkan lebih dari 200 varietas padi unggul.

Selain menghasilkan varietas padi jenis baru, menurut dia, Badan Litbang juga memperkenalkan kalender tanam yang baru untuk mengantisipasi perubahan iklim tersebut. Kalender tanam tersebut memuat antara lain informasi varietas padi yang sesuai untuk setiap wilayah hingga tingkat kecamatan di seluruh Indonesia, rekomendasi pupuk sertan masa pertanaman.”Kalander Tanam yang ada selama ini memang harus diubah karena perubahan (cuaca) yang dinamis,” katanya.

Menurut dia, kalander tanam yang baru tersebut memuat 220 zona musim sebagaimana kebijakan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang tersebar di 18 provinsi atau 198 kabupaten.

Sumber: http://www.beritalingkungan.com

01:55 am, by greeneration

Teknologi Hijau Bisa Kurangi 15 % Emisi Karbon Dunia

JAKARTA, BERLING- Ditengah pertumbuhan konsumersime yang sangat tinggi di Asia, terutama untuk penggunaan  industri komunikasi dan informasi (Information & Communication-ICT). Operator telekomunikasi seharusya  berperan lebih besar dalam mengurangi tingkat  emisi karbon dunia dan efek rumah kaca.

Sebuah hasil penelitian penerapan teknologi hijau bisa mengurangi  15 persen dari emisi karbon dunia.  Hal tersebut terungkap dalam Konferensi Internasional bertema “Green ICT for Asia” yang bertempat di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta (1/11). Menurut Presiden Direktur Bakrie Telecom, Anindya Bakrie, mengatakan, ada 3 alasan kenapa teknologi hijau perlu lebih ditingkatkan.

Pertama pertumbuhan ICT yang pesat memiliki peran besar  dalam mendorong pertumbuhan konsumersime dunia khususnya di Asia.  Kedua industry ICT menyumbangkan 2-3 persen dari total emisi karbon dunia.  Ketiga, penelitian membuktikan bahwa penggunaan teknologi hijau bisa mengurangi lebih dari 15 persen dari total emisi karbon dunia.“Meskipun kontribusinya baru mencapai 2-3 % dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, tapi ICT punya kemampuan untuk mengurangi efek tersebut lebih cepat dari sektor lainnya. Kemampuan inilah yang menjadikan Green ICT sebagai sebuah keharusan,”kata Anindya.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Tiffatul Sembiring yang hadir membuka acara mengatakan, kalau industri ICT sudah semakin hijau, maka sektor lainnya juga akan semakin cepat beralih sehingga bisa tercipta industri teknologi hijau.  Ini yang akan menjadi penopang sekaligus pendorong dari pembangunan yang berkelanjutan di setiap sektor.

Konferensi Green ICT for Asia ini terlaksana atas kerjasama PT Bakrie Telecom Tbk dan Malk Sustainability Partners serta didukung GeSI (Global e-Sustainability Initiatives) menghadirkan lebih dari 25 pembicara internasional. 

Sumber: http://www.beritalingkungan.com

01:53 am, by greeneration

Saatnya Kembali Menghidupkan Pengetahuan Lokal

Pengetahuan lokal ternyata bisa menjadi  salah satu solusi mengatasi dampak perubahan iklim disektor pertanian terutama dalam mengatasi krisis pangan ditingkat komunitas. Sebuah penelitian terbaru dari International Institute for Environment and Development (IIED) mengungkapkan kearifan lokal yang diajarkan turun temurun telah menuntun masyarakat tradisional yang terbelakang sekalipun mampu bertahan menghadapi perubahan iklim.

Penelitian tersebut mengambil studi kasus di Bolivia, Cina dan Kenya.  Riset tersebut mengungungkapkan pengetahuan lokal yang tradisional dalam sistem pertanian telah terbukti mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.  Banyak kearifan yang telah diterapkan secara turun temurun yang bisa harmonis dengan alam. Praktek-praktek tradisional itu disesuaikan dengan ketinggian tempat, jenih tanah, curah hujan dan sebagainnya yang kesemuanya mendukung keberlanjutan lingkungan.

Para petani telah terbiasa  menggunakan tanaman lokal untuk mengendalikan hama dengan cara memilih varietas tanaman yang mampu mentolerir kondisi ekstrim seperti kekeringan dan banjir, menanam beragam tanaman untuk menghadapi ketidakpastian di masa depan. Pemuliaan varietas jenis baru secara lokal ini dilakukan berdasarkan ciri-ciri kualitas yang melindungi keanekaragaman hayati.

Varietas benih lokal yang telah dikembangkan secara lokal lebih cocok dengan kondisi lokal yang berlaku -seperti tanah dan hama- bahkan dengan perubahan iklim seperti kekeringan. Selain itu, benih lokal juga lebih murah.”Di Guangxi, barat daya Cina, sebagian besar petani yang menggunakan varietas lokal selamat dari kekeringan musim semi di tahun 2010, sementara sebagian besar hibrida modern hilang”, kata Dr Yiching Song dari Pusat Kebijakan Pertanian Cina yang juga terlibat dalam penelitian tersebut.

Hal yang sama juga  dipraktekan di Kenya. Para petani di pesisir Kenya telah kembali menggunakan varietas lokal untuk mengatasi perubahan iklim. ”Pengetahuan lokal, tanaman dan praktek-praktek manajemen sumber daya merupakan elemen penting dari kemampuan adaptasi lokal,” kata Doris Mutta, peneliti senior di Institut Penelitian Kehutanan Kenya.

Lebih penting lagi, dengan varietas lokal, petani dapat memilih dan menyimpan benih sendiri untuk musim panen berikutnya, Kondisi ini merupakan sistem pertanian mandiri dan berkelanjutan yang diperlukan saat adaptasi musim.

Sementara, varietas modern ketersediaannya  sangat ditentukan oleh pasar, dan sering dilindungi oleh hak kekayaan intelektual yang dapat membatasi penggunaannya.  Bibit unggul juga membutuhkan input mahal seperti pupuk dan pestisida, dimana banyak petani pribumi tidak sanggup membelinya.”Dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi penyebaran cepat hibrida dengan mengorbankan ras darat lokal bagi sebagian besar tanaman pangan di Cina. Pertanian modern, seperti benih hibrida, telah membuat para petani terpencil miskin dan rentan terhadap ketergantungan mereka pada sumber daya eksternal,” papar Dr Yiching Song, dari Pusat Kebijakan Pertanian Cina.

Selain itu, pertanian modern dengan varietas barunya sering terkendala dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Sementara stres lingkungan dan variabilitas iklim berarti kelangsungan hidup petani miskin sangat tergantung pada ketersediaan varietas lokal yang lebih tangguh,  namun bagi para pengusaha multinasional ini dijadikan peluang bisnis yang menempatkan kepentingan pribadi/korporasi benih komersial diatas kepentingan umum demi mempertahankan keuntungan.

Para peneliti yang terlibat dalam penelitian tersebut juga mengungkapkan, kebijakan pemerintah cenderung mengabaikan pengetahuan dan gagal melindungi hak-hak petani untuk bercocok tanam secara tradisional dan mendapat manfaat dari penggunaan dan akses pasar.”Kebijakan, subsidi, penelitian dan hak kekayaan intelektual telah mempromosikan beberapa varietas komersial modern dan pertanian intensif dengan mengorbankan tanaman tradisional,” ujar Krystyna Swiderska, seorang peneliti senior IIED. Ini menyimpang karena kekuatan negara dan masyarakat sangat bergantung pada berbagai tanaman yang terancam punah sebagai bagian dari keanekaragaman hayati yang masih bertahan.

Metode pertanian yang dipraktekan oleh nenek moyang diberbagai komunitas masyarakat adat termasuk di Indonesia hanya berfokus pada apa yang diberikan alam pada mereka berupa berbagai jenis tanaman seperti kopi, kayu manis dan berbagai tumbuhan liar lainnya sudah cukup untuk kebutuhan masyarakat saat itu. Namun sekarang praktek pertanian yang dikembangkan manusia moderen yang hanya bertumpu pada aspek pertumbuhan dan keuntungan telah menimbulkan banyak masalah terhadap lingkungan dan terbukti gagal mensejahterakan manusia.

Kondisi ini diperparah oleh dampak perubahan iklim menyebabkan petani semakin kesulitan dalam menentukan waktu tanam dan panen.”Yang terasa adalah musim tanam tak menentu. Ketika mempersiapkan bulan September-November untuk menanam padi, tapi air tidak tersedia, sementara bibit sudah harus tanam,”kata Irma Venny aktivis La Via Campesina Regional Asia Tenggara  dalam berbagai kesempatan. 

Saat ini petani diperhadapkan oleh kondisi iklim yang semakin tak menentu karena musim hujan dan kemarau semakin susah diproyeksi. Selain itu, petani juga diperhadapkan ketahanan bibit tanaman, karena suhu makin tinggi akibatnya beberapa bibit sayuran seperti bayam dan lain-lain tidak tahan panas. “Ini sangat menyulitkan petani,”ujarnya.

Solusinya petani sebaiknya kembali kepada pertanian lestari serta pemerintah harus mendukung kedaulatan pangan nasional. Pengetahuan yang mendalam para petani tentang praktek-praktek pertanian tradisional telah berlangsung selama ribuan tahun terbukti mampu mengatasi ancaman iklim. Laporan riset terbaru IIED ini menegaskan, pentingnya petani kembali melestarikan pengetahuan tradisional. 

Sumber: http://www.beritalingkungan.com

01:51 am, by greeneration

Gaya hidup ramah lingkungan bagi Pecinta Alam

Sebagai individu yang hidup diperkotaan dengan proses modernisasi yang cepat terjadi perubahan dari waktu ke waktu, tentunya tidak lepas dari lingkungan hidup di sekitar kita , di sekolah , kampus , kantor , bahkan yang terutama lingkup kecil kita yaitu rumah.

Pembangunan yang berjalan cepat ternyata tidak dapat membendung proses kerusakan dan degradasi lingkungan yang berakibat sistem penunjang kehidupan alami yang ada sekarang ini terancam serius dengan rusaknya lapisan ozon , naiknya suhu bumi dan permukaan laut , perubahan cuaca secara global , meningkatnya banjir , berkurangnya luas areal hutan , berkurangnya volume air , berkurangnya keanekaragaman hayati , meningkat serta meluasnya pencemaran air , tanah dan udara.

Mungkin tempat yang biasa kita daki dan kunjungi , telah berubah dalam hitungan waktu yang singkat bahkan yang paling menyedihkan semua itu sudah tidak ada lagi. Apa yang terjadi sebenarnya?  Kerusakan lingkungan terus berlangsung dalam skala yang menakutkan. Banyak pihak yang menyadari apa yang sedang berlangsung hanya kadangkala tidak menyadari apa yang dapat kita lakukan sebagai konstribusi.

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan dan kontribusikan sesuai dengan peran kita , apakah sebagai pelajar , anggota keluarga , mahasiswa-mahasiswi ataupun anggota masyarakat , dimana kita sebagai individu sama-sama mempunyai tanggungjawab yang tentunya tidak lepas dari kelangsungan hidup anak cucu dan bumi kita , yang mana semua itu akan menentukan bagaimana kualitas kehidupan mereka kelak. Tidak adil rasanya bila kita banyak mengambil sesuatu yang seharusnya merupakan hak mereka seperti air , kualitas udara , keragaman makhluk hidup dll.

Misalnya: 

• Penggunaan air misalnya kalau sekarang kita boros menggunakannya tentu cadangan untuk mereka menurun dari segi kualitas maupun kwantitas ,

• Keragaman Hayati baik flora dan fauna , semua akan berkurang bahkan lenyap bila kita bersikap tidak bijaksana.

• Begitupun pola kosumsi kita akan membentuk serta menjadi contoh dan berdampak para generasi penerus kita kelak.

Pecinta Alam mempunyai arti yang luas sekali , peka dengan apa yang terjadi dengan lingkungan disekelilingnya dan banyak sekali hal yang dapat kita lakukan dan pelajari dari alam berdasarkan nilai-nilai kehidupan yang diyakini misalnya menghargai , mengasihi , menyayangi , peduli pada semua makhluk ciptaan Tuhan dimuka bumi ini. Dimanapun kita berada maka kita tidak akan merusak lingkungan hidup , baik itu dengan cara yang paling sepele misalnya mencoret2 / menggoreskan sesuatu dipohon2 dan tempat memorial lainnya, menebang tumbuhan disekitar, ataupun hanya sekedar meninggalkan bekas bungkus mie instant dan batu baterai bekas senter yang telah kita gunakan saat melakukan perjalanan pendakian.

Kualitas lingkungan merupakan tanggungjawab kita bersama. Lakukan semua dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab bahwa itu bukan milik kita tetapi juga hak dari anak cucu kita sebagai penerus.

• Tumbuhan yang kita tanam misalnya belum tentu kita yang nikmati tetapi mereka yang akan menikmati sebagai penyejuk & peneduh.

Kehidupan kita saat ini detik demi detik juga tak bisa lepas dari berbagai paparan zat-zat kimia beracun yang tidak dapat kita hindari.

Cara hidup ramah lingkungan merupakan satu bentuk sikap dan pilihan yang dapat kita lakukan , dapat dilakukan dengan cara menggunakan produk yang ramah lingkungan dimana kita dapat turut serta menjaga kualitas lingkungan sehingga tidak menjadi lebih buruk dan mengurangi paparan pencemar tersebut.

Gaya hidup ramah lingkungan mencakup semua hal penting yang berhubungan dengan sikap dan pola konsumsi yang bersifat ramah lingkungan.

Penggunaan produk ramah lingkunganpun luas sekali cakupannya mulai dari pemilihan yang secara individual , skala rumah tangga hingga skala besar , misalnya :konsumsi kertas tissue , penggunaan kertas ; batubaterai ; pembungkus plastik ; perlengkapan elektronik yang hemat energi ; konsumsi air ; cara pencucian dan pemilihan cairan pembersih rumah tangga ; pemilihan dan cara penanggulangan hama di sekitar rumah , areal pertanian dan perikanan ; penggunaan pupuk ; pemilihan material bangunan ; wadah penyimpanan ; pemilihan kosmetik perawatan rambut ,tubuh , wajah ; dan pemilihan bahan pangan.

Banyak hal – hal kecil dan sederhana yang dapat kita lakukan misalnya : penanaman pohon tahunan ; hemat dan daur ulang dalam penggunaan air ; pengelolaan sampah ; pemilihan bahan bahan yang dapat Reuse , Refill , Recycling , Reduse .

Semua pilihan ada ditangan Anda .

Mulailah dari diri sendiri, buatlah suatu perbedaan dan lakukan mulai dari hal kecil dan sederhana.

Sumber: http://www.beritalingkungan.com

01:49 am, by greeneration 1

Jejak Hari Bumi

Dua pekan lagi, para pemerhati lingkungan sedunia, akan kembali memperingati Hari Bumi sedunia tahun yang jatuh pada tanggal 22 April. Nah bagaimana awal mula Peringatan Hari Bumi digagas? hingga bisa menginspirasi lahirnya berbagai kelompok besar pelestari lingkungan hidup seperti Greenpeace di Kanada, organisasi lingkungan fenomenal dengan aksi-aksi nekat nan kreatif.

Pada musim semi di Northern Hemisphere (belahan bumi utara) dan musim gugur di belahan bumi selatan bertepatan tanggal 22 April 1970, kira-kira 20 juta warga Amerika Serikat dan mahasiswa  turun ke jalan memenuhi sejumlah taman dan auditorium untuk mengampanyekan kesehatan dan keberlangsungan lingkungan.  Mereka berkumpul menentang kerusakan lingkungan yang disebabkan buruknya saluran pembuangan, serta semakin punahnya kelestarian flora di negeri itu. Aktor utama aksi nasional itu adalah Gaylord Nelson, politikus dan senator pertama yang menyuarakan isu-isu lingkungan menjadi agenda Senat AS.

Embrio gagasan hari bumi dimulai sejak Nelson menyampaikan pidatonya di Seattle tahun 1969, Dalam pidato, ia mendesak perlunya memasukkan isu-isu kontroversial, dalam hal ini lingkungan hidup, dalam kurikulum resmi perguruan tinggi mengikuti model “teach in” yaitu sessi kuliah tambahan yang membahas tema-tema kontroversial yang sedang hangat, khususnya tema lingkungan hidup. Ternyata masyarakat menyambut baik ide ini, sehingga gerakan lingkungan benar-benar semarak, dan timbul arus gerakan yang lebih besar dengan dicanangkannya Hari Bumi.

Dukungan ini terus membesar dan memuncak dengan menggelar peringatan Hari Bumi yang monumental. ketika jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York dengan mengacungkan tinju kemarahan kepada para perusak bumi. Tidak kurang dari 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah berpartisipasi dalam unjuk rasa di New York, Washington dan San Fransisco. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta orang turun ke jalan pada 22 April 1970.

Nelson menyebut fenomena ini sebagai ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan’ dimana  masyarakat umum sungguh peduli dan Hari Bumi menjadi kesempatan pertama sehingga mereka benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyempaikan pesan yang serius dan mantap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu “.

Menurut berbagai analisis ledakan ini muncul karena bergabungnya generasi pemrotes tahun 60-an (bagian terbesar adalah pelajar, mahasiswa, sarjana) yang terkenal sebagai motor gerakan anti-perang, pembela hak-hak sipil yang radikal. Sebuah perkawinan antara pemberontakan 60-an dan kesadaran lingkungan tahun 60-an.

Kesadaran terhadap lingkungan hidup pada masyarakat di Amerika Serikat mulai tergugah semenjak diterbitkannya buku “Silent Spring” karya Rachel Carson pada tahun 1962. Buku ini mengangkat seputar permasalahan lingkungan hidup yang sedang terjadi dan akan membahayakan manusia. Sejak beredarnya buku ini bermunculanlah berbagai kelompok yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan hidup.

Hari Bumi yang pertama ini di Amerika Serikat merupakan klimaks perjuangan gerakan lingkungan hidup tahun 60-an untuk mendesak masuk isu lingkungan sebagai agenda tetap nasional. Kini peringatan Hari Bumi telah menjadi sebuah peristiwa global. Para pelaksana peringatan Hari Bumi menyatukan diri dalam jaringan global masyarakat sipil untuk Hari Bumi yakni EARTH DAY NETWORK yang berpusat di Seattle.

Puncaknya, yaitu saat kelompok-kelompok ini berhasil menggerakkan jutaan orang untuk turun ke jalan dalam pencanangan Hari Bumi pada 22 April 1970. Saat itu sebenarnya ada beberapa tema lain selain masalah penyelamatan lingkungan hidup, antara lain masalah anti perang Vietnam, masalah anti rasial, dan beberapa permasalahan sosial yang lain. Namun masyarakat Amerika saat itu lebih memfokuskan gerakan aksi besar-besaran ini pada tema lingkungan hidup yang dibawakan sebagai pesan terhadap kalangan politisi dan pemerintah untuk memperhatikan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan hidup.

Dari keberhasilan gerakan Hari Bumi pertama kali pada tahun 1970 di Amerika, lahirlah berbagai kelompok besar pelestari lingkungan hidup, antara lain Environmental Action (di Washington, 1970), kelompok Greenpeace (kelompok pelestari lingkungan yang cukup radikal dan militan, lahir pada tahun 1971), Environmentalist for Full Employment (kelompok penentang industrialisasi, lahir tahun 1975), Worldwatch Institute (pusat penelitian dan studi yang mengumpulkan berbagai informasi ancaman lingkungan global, lahir tahun 1975), dan masih banyak lagi kelompok-kelompok pemerhati lingkungan yang lain.

Semenjak dicanangkannya Hari Bumi pada tahun 1970, kelompok-kelompok yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan hidup di Amerika mengalami peningkatan jumlah anggota dengan sangat pesat, antara lain :

  • (Kelompok) Audubon Society th 1962 : 41.000 orang th 1970 : 81.500
  • Izaak Walton League th 1966 : 52.600 orang th 1970 : 53.600
  • National Wildlife Federation th 1966 : 271.900 orang th 1970 : 540.000
  • Sierra Club th 1959 : 20.000 orang th 1970 : 113.000
  • Wilderness Society th 1964 : 27.000 orang th 1970 : 54.000

Namun lepas dari semua sejarah mengenai hari bumi, tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah bagaimana kita semua sebagai penghuni bumi untuk tetap menjaga dan berkontribusi dalam menyelamatkan bumi  yang kita tinggali ini dari kehancuran oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Dan semua itu kita lakukan tidak hanya pada Hari Bumi saja, tetapi juga setiap saat. Selamat memperingati Hari Bumi. 

Sumber: http://www.beritalingkungan.com

01:47 am, by greeneration

Belajar Menghormati Alam dari Orang Rimba

Orang Rimba merupakan salah satu komunitas masyarakat adat  di Indonesia yang mendiami Taman Nasional Bukit  Duabelas, Provinsi Jambi  dan terletak di perbatasaan tiga kabupaten yaitu Batang Hari, Tebo dan Sarolangun. 

Mereka tinggal secara berkelompok sekitar 59 kelompok dan kalau dihitung jumlah populasi mereka saat ini kurang lebih sekitar 3500 jiwa (menurut perhitungan 2010).  Yang menarik dari Orang  Rimba adalah mereka terkenal sangat arif terhadap lingkungan. Hingga saat ini Orang Rimba masih mempertahankan tradisi budaya dari nenek moyang yang berpusat pada hutan sebagai sumber filosofisnya.

Namun perlahan tapi pasti, ruang hidup mereka kini terancam akibat maraknya perluasan  perkebunan kepala sawit ke areal Taman Nasional Bukit Duabelas.  Nah seperti apa kondisi mereka saat ini? dan bagaimana Orang Rimba beradaptasi dengan masyarakat luar dengan tetap mempertahankan kelestarian hutan yang menjadi indentitas Orang Rimba?.  Arie Utami* beberapa waktu berkesempatan berbincang dengan Kepala Adat Orang Rimba, Tumengung, Mijak dan Pengendum, saat mereka berada Jakarta bersama Kelompok Makekal Bersatu (KMB) untuk menyuarakan hak-hak mereka dan ancaman yang terjadi di dalam rimba tempat tinggal mereka. Berikut perbincangan mereka.

Bagaimana kehidupan Orang Rimba saat ini?

Ruang hidup kami terdesak, rimba kami terancam. Kami Orang Rimba yang tinggal di dalam bukit Duabelas yang jaraknya berkilo-kilometer jauhnya dari peradaban modern saat ini terancam karena perluasaan perkebunan sawit dan juga terdesak atas nama konservasi.

Pembukaan perkebunan sawit secara besar-besaran membuat dampak yang sangat besar bagi  kehidupan Orang Rimba. Saat ini pohon-pohon untuk acara adat sulit ditemukan karena sudah berganti menjadi tanaman monokultur saja seperti sawit atau pembukaan hutan untuk perkebunan lain.

Apa yang dirasakan Orang Rimba dengan semakin sempitnya ruang hidup di Bukit Duabelas?

Orang Rimba hidup dari alam dan sangat menghormati segala bentuk pemberian dari alam. Bahkan penanda kehidupan Orang Rimba adalah sebuah pohon. Indentitas kami seperti hilang ketika pepohonan kami hilang berubah menjadi lahan perkebunan. Kehidupan kami bergantung pada bercocok tanam dan berburu. Saat ini hutan tempat kami berburu sangat sempit dan juga hewan-hewan yang dulu banyak di hutan sudah berkurang seperti rusa dan kancil.

Di sungai,  air yang biasanya kami langsung minum dari sungai-sungai yang ada di hutan. Tidak ada sumur di dalam rimba. Air sungai pun tidak sembarangan. Mereka hanya minum air yang airnya bening. Bila mereka memasak air, airnya juga diambil dari sungai. Umumnya sungai di rimba airnya sangat jernih dan sangat mengundang siapapun untuk meminumnya. Implikasi dari cara Orang Rimba meminum air adalah larangan untuk buang air besar maupun kecil di dalam sungai-sungai di rimba. Mereka buang air besar di darat. Istilah untuk itu adalah bingguk. 

Namun kini tak bisa lagi air sungai  langsung kami minum. Perkebunan sawit menggunakan pestisida dan pupuk yang limbahnya mengalir ke sungai-sungai, tepat kami biasa mengambil air dan luasan sungai itu menjadi lebih dangkal. Sekarang air harus kami masak terlebih dahulu sebelum di minum karena limbah pestisida tersebut sangat merusak air dan tubuh kami menjadi sering sakit.

Pembukaan lahan yang dilakukan beberapa masyarakat (bukan Orang Rimba) pun menjadi salah satu ancaman untuk kami. Mereka sering membuka hutan dengan membakar. Dan hal itu sangat  dilarang oleh hukum adat Orang Rimba. Walaupun dahulu kami tinggal berpindah-pindah, kami tidak diperbolehkan menghancurkan alam. Hukum adat di Orang Rimba berlaku untuk semua bahkan ketika Ketua Adat melakukan kesalahan mereka pun mendapatkan hukuman yang sama. Salah tetap salah, itulah keadilan.

Bisakah Orang Rimba beradaptasi dengan pengaruh kehidupan modern di luar?

Kehidupan kami sederhana, hanya di sebuah bilik dan hutan lah tempat kami hidup. Kami tahu kehidupan dahulu dan saat ini memang sangat berbeda tetapi kami tetap menghormati segala perubahaan. Contoh kecil belakang ini masyarakat kami banyak yang menggunakan pakaian layaknya masyarakat lain karena kami menghormati tamu yang sering berkunjung ke tempat kami.

Begitu juga yang kami inginkan untuk rumah kami, rimba kami, hutan kami di Bukit Duabelas. Masyarakat harus menghormati apa yang ada di Bukit Duabelas bersama menjaga dan menghormati seluruh isinya.

Sumpah orang Rimba : “Ber-ayam kuau, berkambing kijang, berkerbau rusa, beratap lipai, berdinding banir.”  Artinya mereka pantang memakan hewan yang diternakan, dan untuk rumah mereka tidak menebang pohon.

Sumber: http://www.beritalingkungan.com

01:46 am, by greeneration

Menggiring ASEAN Jadi Lebih Hijau

Selama pertemuan tahunan para kelompok masyarakat sipil se-Asia Tenggara di Asean People’s Forum, tergiring upaya para aktivis lingkungan menjadikan Asean lebih hijau. Caranya dengan mengusulkan lembaga regional itu menambah satu lagi pilar dalam dasar hukumnya, yaitu lingkungan sebagai Pilar Keempat Piagam Asean. Tapi, apa iya bisa?

Sama seperti kumpulan negara-negara berkembang pada umumnya, Asean tak banyak menaruh perhatian pada isu lingkungannya. Tak ada istilah ekonomi hijau atau pembangunan rendah emisi layaknya Uni Eropa. Kalau mau mengintip Piagam Asean yang jadi dasar hukumnya lembaga regional Asia Tenggara ini, isu lingkungan juga tak punya tempat khusus.

Dari tiga pilar utama dalam Piagam Asean yaitu Ekonomi, Politik dan Sosial Budaya, para pemimpin negeri ini hanya menempatkan isu lingkungan sebagai salah satu isu di bawah Pilar Sosial Budaya. Ini artinya, saat Asean mulai bersatu menjadi satu kawasan regional, isu lingkungan tidak akan jadi sorotan utama. Wong, isu lingkungan itu cuma masalah sosial budaya Asean, yang peleburannya dianggap akan berjalan secara alami.“Selama ini integrasi Asean selalu didasarkan lebih pada pemikiran penyatuan ekonomi, tanpa memikirkan bagaimana dampaknya nanti ke lingkungan,” kata Montree Chantawong, aktivis lingkungan dari Save the Mekong.

Memang jika ingin melihat fakta di lapangan, isu lingkungan sangat dekat berimbas kepada kehidupan rakyat Asean. Jadi mungkin  tak salah-salah benar jika para pemimpin regional ini memutuskan lingkungan masuk pilar sosial budaya. Namun Montree mengingatkan, isu lingkungan bukan hanya terbatas pada masalah sosial atau budaya rakyat Asean saja. Isu lingkungan sudah merentang masalah dari kekeringan air, sanitasi yang buruk, demonstrasi anti pembangunan Waduk Xayaburi di Sungai Mekong, perjuangan para masyarakat adat di hutan-hutan Indonesia, sampai kenaikan permukaan air laut yang pelan-pelan menenggelamkan Indonesia, Filipina bahkan Singapura. Yang berarti, lingkungan juga merentang dari isu sosial, ekonomi, budaya hingga politik.

Namun Ketua Komite Utama Asean People’s Forum Indah Sukmaningsih bagai memaklumi kondisi ini. Menurut dia, kondisi negara-negara Asean terlalu beragam secara geografis, kultur bahkan politis. Sehingga wajarlah jika lembaga regional ini pusing menentukan fokus utama untuk misi lingkungannya. Tak lain tak bukan, karena menentukan fokus utama lingkungan menurut Indah, juga bisa berarti menentukan kemana dana donor paling banyak nantinya akan pergi.

Misalnya jika Asean fokus pada isu kehutanan, berarti Indonesia dan mungkin juga Malaysia yang bakal kebagian dana donor paling banyak. Jika isu kelautan yang jadi sorotan, bagaimana pula nasib Laos yang sama sekali tak punya laut? Sementara jika isu Sungai Mekong yang diangkat, hal itu tak akan mempengaruhi Indonesia sebagai dedengkot Asean, Brunei Darussalam si negara kaya energi fosil atau Timor Leste yang sekarang sedang gencar ingin bergabung dengan Asean.

“Yah, kita tahu bersama, inilah yang sering jadi masalah di antara negara-negara Asean,” kata Indah.

Tapi kebingungan Asean menentukan arah misi lingkungan hidupnya inilah yang justru membuat kelompok-kelompok masyarakat sipil cum aktivis lingkungan semakin bersemangat mengusung ide pilar keempat Asean. Semakin rumit isunya, berarti seharusnya isu lingkungan ini punya tempat sendiri sebagai salah satu pilar utama fokus kebijakan Asean.“Justru dengan sangat beragamnya isu lingkungan Asean, regional ini seharusnya memasukkan isu lingkungan ke dalam pembahasan khusus, yaitu Pilar Keempat Piagam Asean,” kata Montree. Apalagi kata dia, sekarang tak bisa diingkari regional ini sudah merasakan imbasnya perubahan iklim.

Sebetulnya sejak Oktober 2009, para aktivis lingkungan Asean sudah satu suara soal ini. Dalam Asean People’s Forum di Cha-am, Thailand, mereka mulai “berteriak” meminta para pemimpin Asean mendirikan Pilar Keempat Asean. Harapannya dengan menjadi sebuah pilar khusus di Piagam Asean, setiap kebijakan regional ini akan memperhatikan kelangsungan lingkungan, ekonomi, gender, sosial dan keadilan iklim dalam setiap transaksi dan proses yang terjadi di Asia Tenggara. Kebijakan yang dimaksud mencangkup kebijakan politik, ekonomi dan eksplorasi sumber daya alam Asia Tenggara.

Dan dalam Asean People’s Forum di Jakarta kali ini, para aktivis hijau kembali ingin meneruskan misi Pilar Keempat Asean mereka. Fakta Indonesia sebagai negara demokratis yang jadi Ketua Asean, dipandang sebagai kesempatan bagi kelompok-kelompok masyarakat sipil bersuara lebih lantang. Maklum saja, biasanya mereka terpaksa bungkam tutup mulut seperti yang sempat terjadi saat Vietnam jadi Ketua Asean.

Nah, tahun ini dianggap jadi kesempatan emas. Apalagi baru kali pertama dalam sejarah juga, sebuah forum masyarakat sipil Asean dibuka oleh pejabat tinggi negara. Kehadiran Wakil Presiden Indonesia Boediono membuka Asean People’s Forum di Jakarta, 3 Mei lalu, dianggap sebagai pengakuan akan eksistensi kelompok-kelompok sipi Aseanl yang kebanyakan harus bergerak bawah tanah di bawah pemerintahan otoriter.

Tapi tampaknya perjuangan mereka masih akan panjang. Tahun ini memang para pemimpin Asean bersedia bertemu mendengar usulan para kelompok masyarakat sipil ini. Pertemuannya dijadikan bagian dari Konferesi Tingkat Tinggi Asean ke-18 pula. Namun Anggota Komite Utama Asean People’s Forum Conseulo Katrina A. Lopa mengaku, kompromi mereka dengan para pemimpin-pemimpin Asean menghantarkan satu keputusan: dalam pertemuan itu nanti, kelompok-kelompok masyarakat sipil ini boleh bicara terbatas satu tema saja, yaitu isu kesehatan.“Tapi toh, dari isu kesehatan itu kami tetap bisa menariknya ke isu ekonomi, politik, lingkungan bahkan hak asasi manusia,” kata Conseulo, yang akan mewakili kelompok sipil Filipina dalam pertemuan itu. 

Sumber: http://www.beritalingkungan.com

01:44 am, by greeneration

Indonesia Butuh Jurnalis Lingkungan

Gorontalo, BERLING -Jurnalis yang fokus pada pemberitaan mengenai lingkungan hidup, masih diperlukan di setiap media di Indonesia.

Hal tersebut dikemukakan IGG Maha Adi, Direktur The Society of Indonesia Enviromental Journalists (SIEJ) di sela-sela pelatihan dan pembekalan teknik reportase radio khusus untuk pemberitaan lingkungan di Gorontalo seperti dilansir Antara (27/7).

Menurutnya, adanya spesialisasi khusus pada profesi wartawan ini setidaknya dapat membantu menyebarkan informasi mengenai lingkungan secara lebih lengkap dan mendalam.Sejauh ini, menurut pengamatannya, bahkan media-media nasional yang cukup besar sekalipun, hanya ada segelintir yang memiliki rubrik khusus mengenai lingkungan. 

Padahal pemberitaan lingkungan di Indonesia, lanjutnya, tidak akan pernah kehabisan tema, banyak sekali hal-hal yang perlu digali dan kemudian disampaikan jurnalis kepada publik.

SIEJ sendiri gencar melakukan pelatihan maupun beasiswa untuk membekali jurnalis dengan isu hingga teknik reportase lingkungan.” Banyak jurnalis yang masih memiliki pengetahuan yang minim mengenai lingkungan,” kata dia.

Dia mengatakan, ke depan jika pemberitaan mengenai lingkungan sudah mulai mendapatkan tempat atau banyak dikelola, maka media massa di Indonesia tidak lagi memerlukan spesialisasi jurnalis lingkungan

Sumber: http://www.beritalingkungan.com

01:42 am, by greeneration 2