News Event Video Search ▾ Archive

#ProtectParadise, Selamatkan Hutan Indonesia!

Bagi kita, manusia-manusia yang hidup di perkotaan, hutan akan terasa jauh sekali, baik dari segi jarak maupun rasa keterikatan. Tentu saja di Kota kita jarang menemukan hutan kecuali hutan kota, kehadiran taman kota pun sudah berganti dengan jalan-jalan ataupun infrastruktur kota lainnya (kecuali di kota-kota yang sedang menggalakkan program aktivasi taman). Oleh karena itu, apa yang terjadi di hutan tidak kita pedulikan, karena hal tersebut tidak terjadi di depan mata kita, tentu banyak yang lebih memperhatikan kasus-kasus anak jalanan, kriminal di jalanan karena hal tersebut sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Padahal hutan menopang kehidupan kita secara tidak langsung, jika kita melihat ke sekeliling kita, sebagian besar barang yang kita gunakan itu berasal dari hutan. Mulai dari kertas-kertas yang kita gunakan, barang-barang lainnya seperti perabotan rumah tangga pun berasal dari hutan, bahkan oksigen yang membuat kita hidup selama ini pun dihasilkan dari hutan. Tapi apa yang terjadi selama ini, penopang kehidupan kita ini semakin rusak karena digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang lain, hal ini ditunjukkan pada saat perjalanan Bearing Witness  bersama Greenpeace Indonesia di Riau pada 22-25 Maret 2014.

Sekilas mengenai Bearing Witness:  “Bearing Witness adalah salah satu DNA Greenpeace sebagai organisasi kampanye lingkungan. Tahun 1971 para pendiri Greenpeace berlayar ke Amchitka sebuah pulau kecil di lepas pantai Alaska untuk ‘menjadi saksi’ kerusakan akibat uji coba nuklir yang dilakukan Amerika Serikat. Setelah itu ‘bearing witness’ atau menjadi saksi dan bersaksi selalu melekat dalam aktifitas kampanye Greenpeace. Karena kami percaya perubahan dimulai ketika kita ‘menyaksikan’ dan ‘bersaksi’”

Pada perjalanan Bearing Witness ini kami pun diagendakan untuk ‘menyaksikan’ beberapa tempat di Riau dengan keunikan dan keindahannya masing-masing, yaitu Desa Dosan di Kabupaten Siak, Teluk Meranti dan Taman Nasional Tesso Nilo di Kabupaten Pelalawan.

Desa Dosan

Perjalanan menuju Desa Dosan dari Kota Pekanbaru ditempuh dengan waktu + 4 jam dengan kondisi jalan yang sebagian masih berbatu, pemandangan di sisi kiri dan kanan jalan dihiasi dengan perkebunan kelapa sawit dari yang usianya masih muda sampai dengan sawit yang sudah tua. Kami pun sampai di Desa Dosan pada malam hari dengan beberapa kali kebingungan di jalan, karena kondisi jalan yang sudah gelap dengan tidak adanya lampu membuat Bapak Sopir sedikit ragu. Kami pun disambut oleh Bapak Dahlan, tokoh masyarakat Desa Dosan, dan dipersilakan untuk bermalam di rumahnya. Pada saat malam itu pun Bapak Kepala Desa bergabung dengan kami dan menceritakan hal-hal menarik dari Desa Dosan ini. Greenpeace membawa rombongan Bearing Witness ke Desa Dosan ini untuk menunjukkan bahwa Desa Dosan ini telah menerapkan pengelolaan perkebunan sawit yang bertanggungjawab, hal ini pun dikuatkan oleh pemaparan dari Bapak Kades.

Menurut Bapak Kades, Desa Dosan dulu dikategorikan sebagai desa yang tertinggal, banyak warga desa yang tidak mengenyam bangku sekolah. Pada tahun 2003, Bapak Dahlan yang merupakan tokoh masyarakat Desa Dosan dan juga telah memiliki pengalaman sebagai pekerja perkebunan sawit, mengenalkan praktek perkebunan sawit ke warga Dosan. Praktek perkebunan sawit yang dikelola oleh warga Dosan menarik perhatian LSM yaitu Yayasan Elang untuk melakukan riset dan akhirnya mendampingi warga Dosan untuk mengelola perkebunan sawit dengan lebih baik lagi. Yayasan Elang pun memberikan banyak masukan pada praktek perkebunan sawit di Dosan, salah satunya yaitu pengelolaan kebun dengan sistem intensifikasi yaitu tidak memperluas lahan, warga diarahkan untuk meningkatkan hasil kebun dengan mengatur pola pengairannya dan tanpa menggunakan herbisida sehingga menjadi lebih ramah lingkungan. Warga pun menyadari pentingnya keberadaan hutan alami di wilayah Dosan sehingga mereka bersepakat untuk tidak memperluas lahan perkebunannya dengan merambah wilayah hutan alam, hal ini pun didukung dengan perangkat pemerintahan di desa, telah dikeluarkan Peraturan Desa yang menyatakan bahwa telah ditetapkan area konservasi di wilayah Dosan yang tidak boleh dialihfungsikan dan akan terus dijaga.

Keesokan harinya kami pun mengunjungi salah satu wilayah konservasi warga Dosan yaitu Danau Nagasakti. Menurut Bapak Dahlan penamaan danau ini berdasarkan kesaktiannya karena ketika musim hujan wilayah di sekitar danau ini tidak pernah banjir, dan ketika musim kemarau danau ini pun tidak pernah kering.

 image

Gambar 1 Danau Nagasakti

Setelah berkunjung ke danau kami pun melanjutkan kunjungan di wilayah perkebunan sawit yang dikelola oleh warga Desa Dosan. Disini kami dijelaskan mengenai praktek pengelolaan yang dilakukan warga oleh Bapak Kades. Menurut Bapak Kades, hasil perkebunan warga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun hal ini pun merupakan akibat dari penerapan praktek pengelolaan yang lebih ramah lingkungan. Tingkat ekonomi masyarakat pun menjadi meningkat, hal ini ditunjukkan dengan anak-anak di Dosan rata-rata telah menikmati pendidikan formal, minimal mereka telah menyelesaikan bangku SMA, ini merupakan perubahan yang cukup mencolok jika dibandingkan dengan kondisi warga Dosan dahulu yang kebanyakan tidak mendapatkan pendidikan dasar. Hal inilah yang menjadi titipan dari Bapak Kades, mereka merasakan taraf hidup mereka meningkat setelah melakukan praktek perkebunan sawit tetapi mereka pun menyadari bahwa jika mereka mengalihfungsikan hutan alami menjadi kebun akan menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan, oleh karena itu mereka berkomitmen untuk menjaga area konservasi dan berusaha untuk meningkatkan produksi perkebunan sawitnya dengan praktek intensifikasi.

 image

Gambar 2 Bapak Dahlan dan warga yang memanen Sawit

Teluk Meranti

Setelah  dari Desa Dosan, kami pun melanjutkan perjalanan ke Teluk Meranti di Kabupaten Pelalawan. Perjalanan yang ditempuh pun cukup jauh yaitu sekitar 5-6 jam dengan kondisi jalan yang tidak mulus dan berpasir. Di tengah-tengah perjalanan menuju Teluk Meranti ini kami pun sempat berhenti karena kami melihat titik kebakaran hutan, yang terlihat dari posisi kami adalah asap yang mengepul. Yang terbayang pada saat melihat itu adalah betapa menyedihkannya begitu banyak karbon yang terbuang ke udara, bertambah lagi habitat hewan dan tumbuhan yang hilang dan bagaimana nasib hewan yang tinggal di dalamnya. Berdasarkan sebuah studi, api kebakaran hutan dapat membunuh 23-44% pepohonan dengan DBH (diameter setinggi dada) > 10cm  dan 95% pepohonan dengan DBH > 1cm di Amazon. Hal ini dapat mengubah komposisi spesies di daerah dengan sedikit regenerasi bahkan 15 tahun setelah pembakaran (Cochrane et al, 1999; Cochrane ,2003).

image

Gambar 3 Titik Kebakaran Hutan Saat Perjalanan Menuju Teluk Meranti

Kami pun sampai di Teluk Meranti pada malam hari dan disambut oleh Bapak Daus, mantan ketua RW di daerah tersebut, Bapak Dani yang seorang nelayan dan Bapak Yanto yang merupakan tokoh pemuda. Awalnya tujuan kunjungan ke Teluk Meranti ini adalah untuk melihat Beauty Forest yaitu hutan yang masih alami dengan kekayaan yang terdapat di dalamnya, tetapi ternyata di Teluk Meranti ini terjadi konflik di masyarakat yang cukup pelik. Wilayah hutan Teluk Meranti saat ini semakin sempit karena sebagian besar telah area telah diambil alih oleh perusahaan dan dijadikan Hutan Tanaman Industri (HTI). Di masyarakat pun terdapat dua kubu, ada yang mendukung tindakan perusahaan untuk mengalihfungsikan hutan alami dan ada pula yang berjuang untuk mempertahankan hutannya.

Lokasi yang kami kunjungi di Teluk Meranti ini adalah wilayah Sungai Kerumutan, kami pun mengarungi sungai menggunakan speed boat. Sepanjang perjalanan di sungai kami masih dapat melihat habitat hutan alami di sisi kiri dan kanan, tak jarang kami melihat beberapa jenis burung dengan warna-warna yang cantik, terdapat pula monyet-monyet dan beruk yang sedang berjemur di atas pohon. Bahkan menurut Bapak pengendara speed boat, terkadang masih terlihat buaya di pinggiran sungai ini. Kami pun bertemu para nelayan yang sedang memancing dan memasang jala, para nelayan ini mengeluhkan saat ini terjadi penurunan tangkapan ikan, selain itu juga di wilayah pinggiran sungai terjadi pembalakan liar yang sudah cukup lama terjadi. Bahkan para nelayan ini pun menyatakan bahwa mereka sudah bosan untuk melaporkan kejadian tersebut ke petugas yang berwenang karena tidak pernah ditanggapi. Tapi akhirnya beberapa hari sebelum kunjungan kami, para petugas pun datang dan menangkap para pembalak liar. Hal yang dikeluhkan para nelayan dari para pembalak ini yaitu selain mereka merusak wilayah hutan, seringkali kapal yang mereka gunakan pun merusak jala yang dipasang para nelayan, dan yang lebih menyebalkannya lagi para pembalak ini pun sering mengambil ikan tangkapan nelayan yang tersangkut di jala ketika malam hari. Pelajaran yang dapat diambil dari Teluk Meranti ini yaitu kita masih dapat berjuang untuk menyelamatkan keindahan hutan alami asalkan terjadi kesinergisan antara warga, pemerintah dan aparat yang berwenang.

image

Gambar 4 Mengarungi Sungai Kerumutan

image

Gambar 5 Wilayah di Pinggiran Sungai Kerumutan yang Mengalami Pembalakan Liar

Taman Nasional Tesso Nilo

Agenda terakhir dari Bearing Witness adalah mengunjungi Taman Nasional (TN) Tesso Nilo, dengan menempuh perjalanan selama 4,5 jam dari Teluk Meranti ternyata sebelum memasuki kawasan ini lagi-lagi kami pun disambut wilayah perkebunan sawit di kiri dan kanan jalan. Wilayah Taman Nasional ini cukup luas yaitu 80 ribu-an hektar, tetapi menurut Petugas dari Balai Taman Nasional ini wilayah Taman Nasional terus berkurang sekitar 40%, hal ini dikarenakan banyak warga pendatang yang mengalihfungsikan Taman Nasional menjadi perkebunan sawit. Hal inilah yang menjadi konflik di wilayah TN Tesso Nilo, banyak warga yang mengaku bahwa tidak mengetahui batas antara wilayah TN dengan wilayah yang dapat dikelola oleh masyarakat, hal ini pun bukannya tidak dicoba untuk diselesaikan oleh Balai Taman Nasional, berkali-kali telah dibuat batas, bahkan upaya yang terakhir adalah dengan membuat kanal yang menjadi batas antara wilayah TN dengan wilayah warga tetapi ada saja warga yang berusaha melanggarnya.

Taman Nasional Tesso Nilo ini sebenarnya memiliki keanekaragaman hayati yang cukup kaya, selain harimau terdapat juga gajah, tapir yang masih berkeliaran. Di Camp Flying Squad WWF-Indonesia (tempat kami menginap) ini pun terdapat pasukan gajah yang dipakai untuk berpatroli di hutan. Kami pun berkesempatan untuk bermain bersama gajah-gajah tersebut, bahkan sampai memandikannya.

 image

Gambar 6 Pasukan Gajah di Taman Nasional Tesso Nilo

Keesokan harinya, kami pun trekking di wilayah Taman Nasional, kami berjalan melewati wilayah hutan, sungai dan rawa-rawa. Saat trekking, kami tidak melihat hewan-hewan liar kecuali tupai yang berlarian, tetapi kami ditemani suara monyet yang saling bersahutan. Wilayah TN ini sangat luas, kami pun hanya bisa berjalan menyusuri sebagian kecil wilayah TN, tetapi kami sempat melihat wilayah TN ini melalui menara pengawas. Dari TN Tesso Nilo ini kami melihat begitu indahnya hutan alami di Indonesia, dan wilayah ini semakin terancam karena banyak warga yang tidak bertanggungjawab dan mengambil yang bukan menjadi haknya, oleh karena itu ketegasan dari peraturan dan aparat menjadi sangat penting untuk diterapkan.

image

Gambar 7 Pemandangan Taman Nasional Tesso Nilo dari Menara Pengawas

Dari perjalanan Bearing Witness ini kami menemukan hal-hal yang tidak kami ketahui sebelumnya, kami pun menjadi semakin dekat dengan permasalahan hutan yang sebelumnya hanya kami lihat melalui media massa saja. Walaupun permasalahan yang terjadi begitu kompleksnya dan melibatkan begitu banyak pihak, tetapi masing-masing dari kita dapat berperan untuk menyelamatkan sisa-sisa kekayaan alam di Indonesia yaitu dengan cara menyebarkan informasi ini ke publik sehingga semakin banyak yang menyadari dan peduli akan keberadaan hutan di Indonesia, selain itu juga kita dapat beraksi langsung dengan menggunakan produk-produk yang ramah lingkungan yang diproduksi dari kelapa sawit yang bertanggungjawab dan tidak berkontribusi pada kerusakan hutan di Indonesia. Save our forest means save our paradise!


Infografis - Permasalahan Sampah Di Kota Jakarta
Cek info sampah JAKARTA, harapan, & solusinya di www.waste4change.com. Follow @waste4change & @HouseIGs si pembuat infografisnya. 

Infografis - Permasalahan Sampah Di Kota Jakarta

The 3rd StudentsxCEOs Summit - 1 Maret 2014

The 3rd StudentsxCEOs Summit

Komunitas StudentsxCEOs mempersembahkan: The 3rd StudentsxCEOs Summit: "Energizing youth readiness to be business leader in 2030”

Acara :  CEO Talk, Skill Up Workshop, Networking Session, Elevator Pitch

Tempat : Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia

Waktu : 1 Maret 2014

Peserta : 100 mahasiswa dan 50 professional (hasil seleksi), serta 50 komunitas-komunitas seIndonesia

Pembicara : para CEO atau pemimpin bisnis serta para professional terkemuka se-Indonesia

Tanggal Registrasi :

 a) CEO Talk, Skill Up Workshop, Networking Session : 6 Jan -7 feb 2014

 b) Elevator Pitch : 15 Jan - 15 Feb 2014

FREE registrasi, limited to 150 seats.

Link Pendaftaran : bit.ly/SxCSummitReg

More info : @SxCsummit atau @StudentsxCEOs

www.studentsxceos.com

CP : Fikri (089613228828)

Detail acara :

  1. 1.     CEO Talks

Acara utama ini bertujuan untuk memberikan pembelajaran dan ilmu kepada partisipan melalui penyampaian pengalaman dan pandangan para praktisi dan CEO terpercaya.

  • CEO Talk 1: “Fast forwarding to 2030 : Exploring Indonesia’s Business Opportunities”

Pada sesi yang kedua, peserta akan dibagi berdasarkan empat topik yang berkaitan dengan industri-industri bisnis di empat ruangan yang berbeda.

  • CEO TALK 2 : “Cracking Indonesia’s Leading Industries”

 Pilihan industrinya:

  1. “Creative Industry : The Great Minds in Creative Business”  for 75 participants
  2. “Media : Journalism in the Business World”  for 45 participants
  3. “Technology : A Race to the Top with Technnology” for 50 participants
  4. “Banking and Finance : How Banks are Carrying Out their Roles”  for 30 participants
  1. 2.     Workshop

Dengan mengusung tema “Skill Up”, workshop ini akan membantu kalian untuk menyiapkan diri menjadi menjadi business leaders. Empat kategori yang bisa dipilih adalah :

  1. 1.      Leverage your Marketing Skills”
  2. 2.      “Spot Business Opportunities through Problem Solving and Creative Thinking”
  3. 3.      “Starting Up : Investment and Financial Planning”
  4. 4.      “Perfecting your Pitch”
  1. 3.     Networking Session

  1. 1.      “Private Conversation” : Hanya akan ada 1 peserta yang dipilih untuk bertemu secara ekslusif dengan setiap CEOnya.
  2. 2.     “Speed Date” : Sesi networking session yang akan dilakukan antar peserta.
  1. 4.     Elevator Pitch

 

Peserta akan melakukan presentasi dengan waktu yang singkat dan Team The 3rd SXC Summit akan mengundang venture capitalist untuk menghadiri elevator pitch sehingga para start up yang idenya bisa tersampaikan dengan baik, bisa saja didanai oleh venture capitalist.

MERRY CHRISTMAS AND HAPPY NEW YEARLet’s make a better world through our #GreenAttitudes , thoughts & behaviors

MERRY CHRISTMAS AND HAPPY NEW YEAR
Let’s make a better world through our #GreenAttitudes , thoughts & behaviors

Preview Premier Edensor Laskar Pelangi Sikuel 2

Greeneration Indonesia mendapat kesempatan untuk menonton perdana film ini bersama berbagai perwakilan lembaga lingkungan di kota Bandung, seperti Bandung Kolaborator, Bandung Juara Bebas Sampah, Zero Waste Bandung, dan lainnya.

Laskar pelangi 2 Edensor ini menceritakan tentang perjalanan dua orang anak Belitung Ikal dan Arai. Mereka berhasil memperoleh beasiswa untuk kuliah di Sorbone, Paris Prancis. Ikal dan Arai meraih mimpinya menjalani hari-hari menimba ilmu di Sorbone. Ditengah kuliahnya Ikal dan Arai bekerja keras apa saja menjadi pelayan hingga mengamen di jalanan, agar bisa mengirimi uang untuk orang tua mereka di Belitung. Hal ini dikarenakan kondisi perekonomian Belitung tentang Timah yang makin melorot dan lahan Belitung yang tidak bisa ditanami, menberikan dampak terhadap keuangan orang tua mereka. 

image

Di Sorbone sendiri, Ikal sempat mengalami kemelut dalam dirinya yang mengakibatkan hubungannya dengan Arai renggang. Hal tersebut terjadi karena Ikal sempat menjalin hubungan dengan mahasiswi asal Jerman Kathia yang sempat membuat nilainya jatuh dan mulai melupakan akan mimpi awalnya bersama Arai, serta kabar permintaan dari oangtuanya untuk pulang membantu mengatasi permasalahan perekonomian keluarganya semakin menambah permasalahan dalam diri Ikal.

Dalam film ini, kita dapat mengambil berbagai macam pelajaran hidup, baik tentang persahabatan, bakti kepada orang tua dan tanah kelahiran, percintaan, juga semangat untuk meraih mimpi. “Saya saja yang berasal dari Kampung Gantong (kampung yang berada dipelosok Belitung, dengan transportasi yang sulit dan teknologi masih tradisional) bisa meraih mimpi, apa lagi teman-teman (yang ditinggal di suatu daerah yang jauh lebih baik dari Gentong) semua pasti bisa lebih baik dari saya”, ujar Andrea Hirata pada saat memberi sambutan pada pengunjung Premier Edensor di Blitz Megaplex Paris Van Java, Bandung, Senin 23 Desember 2013.

image

Pada Premier Edenson ini, penonton yang hadir adalah dari berbagai kalangan, baik media, pelajar, komunitas, maupun karyawan swasta. Penonton yang hadir berkesempatan berfoto, dan berinteraksi langsung dengan sang penulis novel, pemeran Alin, dan juga pengisi sountrack dari film tersebut. Tidak hanya itu kegiatan inipun dihadiri oleh personil Project-P dan para pengunjung mendapatkan kenang-kenangan berupa CD soundtrack film Laskar Pelangi 2.

Setelah menonton film ini, kami merasa terinspirasi akan mimpi-mimpi yang sedang dirancang dan akan segera diraih. Semoga penayangan film ini dapat memberikan banyak manfaat tidak hanya untuk Kami, tapi juga masyarakat umumnya terutama dalam hal meraih mimpi.

Namun demikian, diharapkan masyarakat juga dapat sadar bahwa meraih mimpi yang indah tidak hanya harus jauh-jauh ke luar negri. Kita harus percaya bahwa mimpi dapat diperoleh dimana saja, termasuk disini, di tanah yang Kita pijak. Mimpi setiap orang berbeda, begitupun cara memperolehnya, gambaran akan semangat Arai dan Ikal, kerja keras serta kesungguhan, juga doa dari orang tualah yang bisa kita jadikan inspirasi untuk meraih cita-cita kita masing-masing. Maka, kerjarlah mimpimu dan buat itu menjadi kenyataan seperti sang penulis, Andrea Hirata.

Salam lestari,

Kontributor kegiatan Div. Program - Greeneration Indonesia

Banon Pramesty

Dwi Widya Mutiara

Sani Firmansyah

 image

Call for Discussion! Diskusi Terbatas: "Pengelolaan Lingkungan di Pulau Kecil Destinasi Wisata"

Dengan hormat rekan, sahabat, mitra GI,

Kami, Tunas Nusa Foundation dan Greeneration Indonesia menginformasikan bahwa kami akan menyelenggarakan diskusi open space dengan Tema “Pengelolaan Lingkungan di Pulau Kecil Destinasi Wisata”. 

Read more
#

“Masuk RT Tidung“ merupakan singkatan dari “Manajemen Sampah untuk Kawasan Rumah Tangga Tidung”. 

Read more

Organic, Green & Healthy Expo 3-6 Oktober 2013

image

Ada lebih dari 50 acara bermanfaat dan +160 Exhibitor, Food Counter,

Read more

PARK(ing) DAY Indonesia

image

APA ITU PARK(ing) Day?

Read more
Isi Form Relawan nya di sini [[MORE]] —> https://docs.google.com/forms/d/1arbt4FJSqipoF8qawMoHem8vvxJbDiKU96zQuRpj6Fk/viewform?edit_requested=true

Isi Form Relawan nya di sini

Read more